Pengimplementasian Identitas Kependudukan Digital (IKD) sebagai terobosan Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri untuk mendigitalkan KTP-el diprediksi akan rampung dalam waktu yang singkat. Hal tersebut dapat terjadi berkat kerja keras berbagai pihak untuk mewujudkannya. Salah satunya adalah ASLI RI yang berkontribusi sebagai penyedia sistem facial recognition untuk verifikasi identitas berbasis biometrik secara real-time dan akurat.

Berdasarkan sumber terkait, Identitas Kependudukan Digital (IKD) merupakan salah satu inovasi Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri untuk mendigitalkan KTP-el yang sudah ada. IKD tersebut dirancang dalam bentuk aplikasi mobile phone guna mendukung keberlangsungan ekosistem adminduk. Selain itu, juga bertujuan meningkatkan kualitas penyelenggaraan pelayanan publik dan pemerintahan yang terintegrasi. Nantinya, dokumen identitas berupa KTP dan Kartu Keluarga bisa diakses melalui aplikasi tersebut secara digital, termasuk pengajuan perubahan data.

Sumber: www.dukcapil.kemendagri.go.id

Namun, tidak hanya semata-mata mendigitalkan bentuk fisiknya saja. Dirjen Dukcapil Zudan Arif Fakrulloh menyampaikan lewat siaran pers-nya, kalau Identitas Kependudukan Digital (IKD) nantinya tidak sekedar digital, tapi juga harus aman dan seamless. Untuk itu, beliau menekankan pentingnya melakukan verifikasi, autentikasi, dan otorisasi identitas agar tetap aman, salah satunya yaitu dengan mengimplementasi sistem Facial Recognition (FR). Sistem facial recognition untuk E-KYC atau verifikasi identitas haruslah yang berkualitas tinggi, guna mencegah risiko pemalsuan identitas atau error yang sangat mungkin terjadi. Mengingat, masyarakat Indonesia saat ini sangat banyak, dan target kepemilikan IKD tersebut mencapai 70 persen, sehingga sistem yang disediakan haruslah yang memadai dan bisa diandalkan.

Oleh karena itulah, kerjasama ini dijalin. Selain ASLI RI, Dukcapil juga menjalin kerjasama dengan lima vendor penyedia sistem facial recognition lainnya demi kelancaran proses verifikasi identitas yang stabil dan akurat. Selain itu, inovasi tersebut juga diharapkan bisa membantu memangkas biaya administrasi yang jumlahnya tidak sedikit.

“Dengan ID Digital dokumen KK, KTP-el kita pindahkan ke HP. Biaya pengadaan blangko KTP pun berkurang, sehingga kita akan bisa menghemat Rp 50-100 miliar per tahun,” tandas Dirjen Zudan.

Semoga kerjasama ini dapat lebih mendukung transformasi digital di setiap lini kehidupan masyarakat, baik yang bersifat bisnis maupun nonbisnis, demi terciptanya ekosistem digital yang inklusif, terintegrasi, serta aman.